TARAKAN, Fokusborneo.com – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,23 persen (yoy) pada triwulan I-2026.
Meski berada di bawah angka nasional sebesar 5,61 persen, pertumbuhan ini dinilai tetap kokoh berkat sokongan sektor konstruksi dan investasi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, menjelaskan mesin pertumbuhan utama dari sisi lapangan usaha adalah sektor konstruksi dan perdagangan. Sedangkan dari sisi permintaan, ekonomi daerah ditopang kuat oleh investasi dan net ekspor.
Hasiando mengungkapkan sektor pertambangan masih mendominasi struktur ekonomi Kaltara dengan pangsa 25,81 persen. Namun, sektor ini tengah menghadapi tantangan berat akibat penurunan permintaan global dan dinamika harga komoditas.
“Syukurnya, kita memiliki investasi di industri pengolahan, baik di kawasan KIPI maupun industri pulp and paper Phoenix. Kehadiran industri ini mampu menahan perlambatan ekonomi yang dipicu oleh kurang optimalnya kinerja sektor pertambangan,” ujar Hasiando, Senin (11/5/26).
Selain pertambangan, sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 15,16 persen dan perdagangan sebesar 14,00 persen terhadap total ekonomi wilayah.
Meskipun tumbuh positif, KPwBI Kaltara mencatat beberapa tantangan krusial yang harus diwaspadai, antara lain ketergantungan tinggi pada bahan mentah (raw material) yang rentan terhadap fluktuasi harga global.
Selain itu, aksesibilitas dan konektivitas antarwilayah yang masih terbatas. Serta infrastruktur digital yang belum merata di seluruh pelosok Kaltara.
Sebagai langkah antisipasi, Hasiando menekankan pentingnya akselerasi hilirisasi industri, baik di sektor logam dasar maupun pangan.
Selain itu, optimalisasi ekspor produk lokal ke negara tetangga serta pengembangan ekonomi digital menjadi peluang besar untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.(*/mt)














Discussion about this post