JAKARTA, Fokusborneo.com – Bersedihlah Fans Arsenal. Mimpi mengawinkan tropi Premier League dan Champions pupus. Ambisi itu terkubur di lapangan Puskás Aréna, Budapest, Hungaria. Penggali kuburnya adalah anak-anak Paris Saint-Germain dengan adu pinalti 5-4.
Tulisan ini bukan untuk menganalisa pertandingan. Dimana Anda bisa membaca ribuan tulisan diberbagai media. Menonton videonya di Youtube. Atau tertawa ngakak melihat meme-meme lucu menggambarkan pertandingan final itu di X. Saya bukan The Gooners – julukan fans Arsenal. Saya kan Red Devils. Pemuja Manchaster United.
Data tahun 2025, jumlah fans Arsenal diperkirakan mencapai 125 juta orang diseluruh dunia. Bayangkan! Sebentar saya bayangkan dulu. Berapa banyak orang bersedih. Kecewa. Tidak bisa terima hasil kekalahan dari PSG.
Nah, tahukah Anda salah satu fans berat Arsenal dari jutaan yang kecewa itu adalah Anggota DPR RI Dapil Kaltara Deddy Sitorus. Siang tadi saya baru tahu, kalau Deddy fans berat The Gunners sejak tahun 2005. Saat klub asal London itu masih ditukangi Arsène Wenger. Pelatih asal Prancis.
Arsène lah yang mampu mengembalikan kejayaan Arsenal. Ia melatih dari tahun 1996 sampai 2018. Total 3 tropi Primer League, 7 FA Cup dan finalis Liga Champions 2006. Sampai akhirnya, Arsenal dijuluki Gudang Peluru.
Siapa yang tidak kenal tukang gedor Thierry Henry, Dennis Bergkamp dan Robin van Persie. Ditengah ada Patrick Vieira, Cesc Fàbregas dan Fredrik Ljungberg. Sedangkan palang pintu dijaga Sol Campbell, Kolo Touré dan Ashley Cole. Serta kiper nasional Jerman Jens Lehmann sebagai penjaga gawang.
Dijaman keemasan Arsenal itulah Deddy Sitorus sedang sekolah di Kingstone, London. Kecintaannya pada Arsenal pun semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya tiba, management Arsenal menilai Stadion Highbury sudah tidak mampu menampung jumlah penonton yang makin membludak.
Klub pun tidak bisa memaksimalkan pendapatan dari stadion yang hanya berkapasitas 38 ribu penonton. Sampai akhirnya diputuskan membangun stadion baru yang lebih modern dengan kapasitas 60 ribu penonton bernama Emirates.
Lokasi yang dipilih pun tidak jauh dari stadion lama di London Utara. Karena disitulah Arsenal lahir dan basis pendukung fanatiknya. Jaraknya kalau ditarik garis lurus hanya 480 meter. Ditempuh sekitar 10-15 menit dengan jalan kaki.
Sebenarnya Highbury beberapa kali di renovasi. Namun tidak bisa maksimal karena berada dipemukiman pada penduduk.
Membangun stadion baru sudah menjadi kebutuhan. Rencana pemindahan ini mendapat dukungan Dewan lokal dari Partai Liberal Demokrat (Libdem).
Mereka tidak peduli dengan penolakan fans garis keras Arsenal. Bagi mereka, Highbury bukan semata stadion tempat pertandingan. Tapi Highbury adalah identitas, kebanggaan dan sejarah bagi London Utara.
Disitulah politik bermain. Deddy Sitorus pun ikut cawe-cawe. Saya kutip utuh saja tulisannya:
“Tahun 2005 saya dan teman2 sekelas aktif berkampanye dalam pemilu tingkat daerah di London. Kami mendukung kandidat Green Party dan menyerang kebijakan dewan lokal dari partai Liberal Demokrat (Libdem). Partai ini mendukung pemindahan stadion Arsenal dari Highbury ke stadion Emirates.”
“Kami aktif melakukan kampanye door to door. Memasukkan pamflet dan brosur ke rumah warga. Berdialog dengan warga yang ada di rumah (biasanya lansia). Bahkan datang ke pertemuan-pertemuan warga level RT –kalau di sini, termasuk komunitas-komunitas terdampak (utamanya para pedagang).”
“Hasilnya, Libdem kehilangan 2 kursi City Council dan berikutnya Partai Konservatif kehilangan kursi dari distrik itu.”
Begitulah kisahnya. Ternyata Deddy Sitorus tidak hanya Tifosi kaleng-kaleng. Dia juga terlibat dalam sejarah perjalanan Arsenal. Dari klub yang dikelola secara profesional dengan mempertahankan sejarah. Berubah menjadi klub modern.
Nah, terkait hasil final semalam, Deddy Sitorus menunjuk kambing hitam bernama Mikel Arteta si juru taktik. Menurutnya, bermain defensif sejak unggul 1-0 di menit ke 6 berkat gol Kai Havertz adalah strategi keliru.
Angka statistik tidak bisa dibantah. PSG menguasai bola 75,3% dan Arsenal sisanya 24,7%. Oporan akurat PSG 806, Arsenal hanya 196. Statistik lainnya, silahkan Anda cari sendiri.
“Arteta memang aneh, saat unggul 1:0 malah pakai taktik parkir bus dan bukan menekan. Babak kedua saya tdk mau nonton lagi krn yakin pasti kalah.
Ehh, ternyata benar,” ungkap Deddy distatus Facebooknya.
Sejarah yang ingin diulang Arsenal 20 tahun lalu pun hancur berantakan. Nasib Arteta ternyata sama saja dengan Arsene Wenger seniornya. Bedanya, Arsene Wenger parkir bus di luar lapangan. Sedangkan Arteta di tengah lapangan. Bergembiralah PSG.(pai)












Discussion about this post