TARAKAN, Fokusborneo.com – SMP Negeri 1 Kota Tarakan kembali menggelar agenda tahunan bergengsi, Pentas Budaya, yang berlangsung selama dua hari pada tanggal 23–24 Mei 2026.
Acara yang telah memasuki tahun keenam pelaksanaannya ini, menjadi panggung apresiasi seni sekaligus wadah bagi para siswa untuk menyalurkan bakat dan berekspresi di luar bidang akademik.
Kegiatan yang berawal dari konsistensi program “Pojok Seni” setiap akhir bulan ini, kini telah bertransformasi menjadi acara besar yang dinantikan seluruh warga sekolah dan orang tua murid.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, konsep Pentas Budaya tahun ini mengangkat kolaborasi antara seni ansambel musik dan pantomim, yang dipadukan dengan kegiatan bazar sekolah.

Kepala SMP Negeri 1 Kota Tarakan, Moh. Rachmat, menjelaskan konsep dasar dari Pentas Budaya ini adalah memindahkan proses pembelajaran seni budaya di kelas langsung ke atas panggung pertunjukan.
Komposisi pengisi acara pun diatur secara bergantian setiap tahunnya agar seluruh jenjang kelas dapat merasakan pengalaman yang merata.
”Tahun ini yang tampil di atas panggung adalah siswa-siswi kelas 8 dan kelas 9. Sementara untuk kelas 7, mereka mengelola bagian bazar,” ujar Rachmat saat ditemui di sela-sela acara, Minggu (24/5/26).
Rachmat menekankan pentingnya sekolah dalam memfasilitasi ragam kecerdasan siswa yang tidak melulu diukur dari nilai akademik atau kognitif saja. Melalui Pentas Budaya ini, aspek keterampilan (skill) dan kecerdasan berkesenian anak-anak distimulus dengan baik.

“Kecerdasan anak itu kan multi (multiple intelligences). Ada anak yang mungkin kecerdasan matematikanya kurang menonjol, tetapi kecerdasan bermusik atau menarinya luar biasa. Jadi melalui kegiatan ini, keterampilan lain di luar kognitif bisa kita angkat dan apresiasi,” ungkapnya.
Ia juga menceritakan bagaimana dampak positif kegiatan ini di tahun-tahun sebelumnya telah berhasil membuka mata para orang tua terhadap bakat terpendam anak mereka.
Rachmat mengisahkan salah satu alumni yang kini menempuh studi di Singapura, di mana bakat seni besarnya baru disadari sang ayah setelah melihat keberanian anaknya tampil di panggung Pentas Budaya SMPN 1 Tarakan.
Oleh karena itu, target utama dari konsistensi acara ini menurut Rachmat adalah melatih mental dan menumbuhkan keberanian anak untuk berekspresi secara positif.

Meski sistem menonton diterapkan secara bergantian per sesi kelas demi kenyamanan dan tempat duduk berbayar dengan tiket masuk berkisar Rp15.000 yang sudah termasuk paket kudapan ringan, antusiasme orang tua murid untuk datang menonton tetap sangat tinggi.
Selain menyajikan pertunjukan seni di panggung utama, acara ini juga menyuguhkan pameran lukisan di area bawah yang bekerja sama dengan komunitas pelukis lokal di Kota Tarakan.
Tidak ketinggalan, area bazar yang ramai dikunjungi juga diisi stan kreatif dari siswa, alumni, hingga pelaku UMKM umum.
Ke depan, Rachmat memastikan pihak sekolah akan terus mempertahankan dan mengembangkan tradisi Pentas Budaya ini dengan variasi seni yang berbeda di setiap tahunnya, seperti teater dan seni tari untuk melengkapi ruang ekspresi bagi generasi muda Kota Tarakan.(*/mt)












Discussion about this post