TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Upaya membangun Indonesia yang sehat tidak hanya dimulai dari rumah sakit atau pusat layanan kesehatan, tetapi juga dari kebiasaan sederhana yang tumbuh di dalam keluarga.
Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa KKN 31 Universitas Borneo Tarakan (UBT) melaksanakan “Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)” di Posyandu Beringin, Desa Jelarai Selor, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), Selasa (7/7/26).
Kegiatan yang menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat mahasiswa ini dipimpin oleh Anindya Adibah, Harpiana, dan Alfian, dengan sasaran utama para ibu beserta keluarga yang mengikuti layanan Posyandu.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi mengenai pentingnya PHBS, tetapi juga membuka ruang konsultasi dan diskusi agar masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Sosialisasi diawali dengan pembagian brosur edukatif mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Selanjutnya, para mahasiswa KKN 31 UBT memberikan penjelasan mengenai pentingnya mencuci tangan dengan benar, menjaga kebersihan lingkungan, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, serta membangun kebiasaan hidup sehat sebagai investasi jangka panjang bagi tumbuh kembang anak dan kualitas hidup keluarga.
Suasana berlangsung interaktif ketika peserta memanfaatkan sesi tanya jawab untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi dalam menjaga kesehatan keluarga di lingkungan tempat tinggal mereka.
Diskusi tersebut kemudian ditutup dengan penyampaian kembali komitmen bersama untuk menjadikan PHBS sebagai budaya sehari-hari.
Penanggung jawab pelaksana kegiatan, Anindya Adibah, mengatakan bahwa perubahan besar dalam kualitas kesehatan masyarakat berawal dari perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten oleh setiap keluarga.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai penyuluhan semata, tetapi menjadi awal lahirnya kebiasaan baru di lingkungan masyarakat. Ketika keluarga terbiasa hidup bersih dan sehat, maka anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan yang lebih baik, sehingga kualitas sumber daya manusia juga akan meningkat,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ilmu pengetahuan secara langsung kepada masyarakat sehingga manfaat pendidikan tinggi benar-benar dirasakan hingga tingkat desa.
Salah seorang peserta Posyandu, ibu Siti Rahma, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Selama ini kami tahu pentingnya hidup bersih, tetapi melalui penyuluhan ini kami menjadi lebih paham cara mencuci tangan yang benar, pentingnya menjaga kebersihan rumah, serta bagaimana memenuhi gizi keluarga. Penjelasannya mudah dipahami dan sangat bermanfaat,” katanya.
Dosen Pembimbing Lapangan, Muhammad Thobroni, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Tri Darma Perguruan Tinggi yang menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan sosial di tengah masyarakat.
Menurutnya, pembangunan nasional tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas kesehatan masyarakat sebagai fondasi pembangunan manusia.
“PHBS merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa. Ketika masyarakat memiliki budaya hidup bersih dan sehat, maka angka penyakit dapat ditekan, kualitas pendidikan meningkat karena anak-anak tumbuh lebih sehat, produktivitas masyarakat bertambah, dan pada akhirnya kesejahteraan ikut meningkat. Inilah bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan Indonesia dari tingkat desa,” ujar Muhammad Thobroni.
Ia menambahkan bahwa kegiatan edukasi kesehatan seperti ini sejalan dengan arah Program Strategis Nasional (PSN) yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas utama.
Penguatan budaya hidup sehat juga mendukung implementasi Asta Cita, khususnya dalam pembangunan manusia Indonesia yang unggul, sehat, produktif, dan berdaya saing.
Lebih jauh, kegiatan tersebut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 3 (Good Health and Well-being) tentang kehidupan sehat dan sejahtera, Tujuan 4 (Quality Education) melalui edukasi kesehatan masyarakat, serta Tujuan 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Bagi UBT, kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya implementasi pembelajaran di luar kampus yang memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa sekaligus menghadirkan solusi atas kebutuhan masyarakat.
Di tengah tantangan pembangunan kawasan Kaltara sebagai wilayah strategis nasional dan beranda terdepan Indonesia, penguatan budaya hidup bersih dan sehat dinilai menjadi fondasi penting bagi lahirnya masyarakat yang tangguh, produktif, dan berkualitas.
Melalui langkah-langkah sederhana yang dimulai dari keluarga, mahasiswa UBT menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar, melainkan dari perubahan perilaku yang terus dipelihara menjadi budaya bersama. (**)














Discussion about this post