TARAKAN – Kemeriahan peringatan HUT ke-81 RI menyelimuti kawasan Simpang 4 Tarakan Mall, Senin (17/8/2026) siang. Ratusan warga memadati persimpangan tersebut untuk menyaksikan aksi simbolis pembentangan bendera Merah Putih berukuran raksasa tepat saat detik-detik Proklamasi Kemerdekaan.
Aksi yang diprakarsai oleh Komunitas Badan Pengurus Kota (BPK) Orang Indonesia (OI) Tarakan ini sukses menarik perhatian pengguna jalan dan masyarakat sekitar. Sejak pagi hari, antusiasme warga sudah terpancar; mereka rela berkumpul lebih awal demi dapat menghormati Sang Saka Merah Putih sekaligus mengumandangkan lagu Indonesia Raya secara serentak.
Ketua BPK OI Tarakan, Che Ageng, menyampaikan bahwa pembentangan bendera raksasa ini telah menjadi agenda tahunan yang mereka rintis sejak 2015.
“Awalnya panjang bendera kami sekitar 5 meter dengan lebar 3 meter. Kemudian terus kami tambah ukurannya hingga sekarang menjadi 17 x 8 meter,” ungkap Che Ageng.
Ukuran 17 x 8 meter tersebut disiapkan khusus untuk momen peringatan 17 Agustus, meski dalam beberapa kesempatan bendera ini juga dibentangkan pada kegiatan-kegiatan berjiwa nasionalisme lainnya.
Gagasan ini berawal dari kerinduan Komunitas OI untuk merangkul masyarakat, terutama generasi muda, agar dapat merayakan kemerdekaan secara langsung tanpa sekat formalitas upacara.
“Walaupun mungkin ada teman-teman yang sudah jarang ikut upacara, jangan sampai kita melewatkan momen detik-detik Proklamasi. Kami berpikir harus ada sesuatu yang bisa menggerakkan mereka. Akhirnya kami memilih Merah Putih,” tambahnya.
Che Ageng juga menekankan bahwa penghormatan kepada Merah Putih harus berdiri di atas semua golongan dan bebas dari kepentingan politik. Bagi OI, kritik terhadap pemerintah adalah hal wajar, namun rasa hormat pada simbol negara tidak boleh luntur.
“Kalau kita tidak suka dengan kebijakan pemerintah, silakan kritik pemerintahnya. Tetapi Merah Putih harus tetap berkibar. Ini adalah simbol perjuangan para pahlawan yang harus kita hormati,” tegasnya.
Pada puncak acara di Simpang 4 GTM, sedikitnya 30 relawan bertindak sebagai pemegang utama bendera. Tak hanya jajaran anggota OI, aksi ini turut didukung oleh partisipasi berbagai elemen masyarakat dan komunitas lokal Tarakan.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Kegiatan kami sekitar pukul 11.17 WITA, tetapi sejak pukul 09.00 masyarakat sudah datang. Bahkan ada yang menghubungi kami menanyakan apakah kegiatan tetap dilaksanakan,” tutup Che. (**)















Discussion about this post